
Saat itu, Rabu 9 Nopember 2016 datang ke kantorku dua orang polisi, satu anggota Polres Pandeglang satu lagi dari Polda Banten. Mereka menyampaikan salam -katanya- dari Bapak Presiden RI, bahwa pimpinan Pondok Pesantren Mathla'ul Anwar Menes diundang oleh beliau besok hari Kamis, 10 Nopember 2016 bertempat di Istana Negara dengan agenda acara "Silaturahim".
Sempat bertanya-tanya juga dalam hati. Apakah betul undangan dari seorang kepala Negara seperti ini? Atau jangan-jangan ada penangkapan para kyai dan ustadz seperti pada zaman orde baru dahulu? hehehe.. Tapi perasaan itu saya tepis dan segera ber-husnudzon saja.
Kebetulan hari itu di kantor sedang berlangsung rapat koordinasi perguruan, sehingga hal tersebut langsung dibahas dalam rapat. Ketua perguruan Bapak Dr. Jihaduddin meminta pertimbangan dari Ketua Bidang Pendidikan Bapak Dr. Akhsan Sukroni perihal siapakah yang akan diutus untuk menghadiri undangan dari Presiden RI tersebut. Muncullah saat itu dua nama, diantaranya pak Asep Saparudin dan saya. kata Dr. Jihaduddin yang tahu persis perihal pondok pesantren adalah pak Sarda. Akhirnya rapat memutuskan bahwa saya diutus untuk menghadiri undangan pak Presiden RI tersebut.
Esok harinya, Kamis 10 Nopember 2016 pukul 06.30 WIB saya berangkat menuju Polda Banten diantar oleh pak Alpian membawa mobil Baleno-nya pak Haji Ohim. Sampai di Polda Banten pukul 08.00 WIB kami masuk ke area parkir, dan setelah mengucapkan terima kasih dan mohon doanya kepada pak Alpian, saya berjalan masuk pintu depan gedung Polda menuju ruang tunggu.
Sampai di ruang tunggu, ternyata sudah ada beberapa kyai dan ustdz yang sudah datang lebih awal, mereka duduk di kursi sofa sambil ngobrol dan diselingi minum teh hangat dan makanan ringan yang telah disediakan oleh panitia, mereka adalah kyai dan ustdz dari Kabupaten/Kota Serang. hadir juga diantaranya Dr. Amas Tajudin anggota MUI Kota Serang, Pimpinan Ponpes Al-Barokah, Pimpinan Ponpes Ardaniyah, Pimpinan Ponpes lain yang semuanya itu kurang lebih delapan Ponpes dari Kota Serang saja.
Sambil minum teh hangat, masing-masing dari kami saling tanya kabar hingga pertanyaan yang mengarah pada permasalahan ini. "Ada apa ya kira pak Presiden memanggil para kyai Banten?"
---bersambung---
Sambil minum teh hangat, masing-masing dari kami saling tanya kabar hingga pertanyaan yang mengarah pada permasalahan ini. "Ada apa ya kira pak Presiden memanggil para kyai Banten?"
---bersambung---
Komentar
Posting Komentar